Selasa, 25 Oktober 2011

Laporan Isolasi Bakteri

ISOLASI BAKTERI
I.  TUJUAN
Praktikum kali ini bertujuan untuk mempelajari tata cara mengisolasi bakteri, sehingga dapat mendapatkan biakan murni.

II. DASAR TEORI
Dialam populasi mikroba tidak terpisah sendiri menurut jenisnya, tetapi terdiri dari campuran berbagai macam sel. Di dalam laboratorium populasi bakteri ini dapat diisolasi menjadi kultur murni yang terdiri dari satu jenis yang dapat dipelajari morfologinya, sifat dan kemampuan biokimiawinya.
Dalam mempelajari mikroba tidak bias dilakukan secara kasat mata. Sedangkan dalam suatu lokasi yang menurut manusia sudah cukup kecil, disanan masih terdapat bakteri dalam jumlah besar dan juga bermacam–macam jenisnya. Selain itu, di alam mikrobia pada umumnya tidak hidup tersendiri sebagai individu tunggal dan terlepas dari spesies yang lain, Mikroba lebih sering ditemukan dalam bentuk koloni dan bersama-sama dengan mikroba yang lain (Sailer,2000).
Mikroorganisme terdapat dimana-mana didalam lingkungan kita mereka ada pada tubuh kita, didalam tubuh kita, dan disekeliling kita. Mereka merupakan komponen penting dalam ekosistem. Dihabitat alamiahnya, mereka hidup dalam suatu komunitas yang terdiri dari berbagai jenis mokroorganisme, bersama spesies-spesies biologi lainnya. Didalam komunitas ini, satu spesies mikroba dapat mempengaruhi spesies lain dengan  berbagai cara-cara beberapa bersifat menguntungkan beberapa merugikan ( Pelezar, 1988 ).
Oeh karena itu, dalam mempelajarinya, bakteri harus diambil dari alam lalu diisolasikan dalam suatu biakan murni. Biakan murni adalah biakan yang hanya berisi 1 jenis bakteri (Pelczer et al.,1988).
Ada berbagai cara untuk mengisolasi bakteri dalam biakan murni yaitu, cara pengenceran, cara penuanagan, cara penggesekan, atau penggoresan, cara penyebaran, cara pengucilan 1 sel, dan cara inokulasi pada hewan. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. (Waluyi,2007).
Untuk metode streak plate misalnya, mikroba diletakan didalam pada ujung palte mengguanakan ose, lalu digoreskan pada permukaan medium agar tersebut dengan pola tertentu yang khas. Ada pula metode Pour Plate atau penuanga. Metode ini dapat digunakan untuk penghitungan bakteri secara langsung. Karena sebelum dituang bakteri tersebut diencerkan terlebih dahulu. Sehingga syarat penghitungan langsung yaitu dalam 1 media terdapat 30-300 koloni dapat terpenuhi(Prescott et.al.2008).
Dalam keadaan sebenarnya (di alam bebas) tidak ada bakteri yang hidup tersendiri terlepas dari spesies lainnya. Kerapkali bakteri patogen kedapatan bersama-sama bakteri saproba. Yang terakhir ini boleh disebut penyerbu yang membonceng (secondary invaders). Mungkin juga bakteri patogen yang membonceng. Untuk menentukan siapa pembonceng dan siapa yang diboncengi diberikan pedoman “siapa yang kedapatan di situ lebih dulu, dan siapa yang datang terkemudian”.
Untuk menyendirikan suatu spesies ada dikenal beberapa cara, yaitu:
1.       Dengan pengenceran
Cara ini pertama-tama dilakukan oleh Lister dalam tahun 1865. Ia berhasil memiara murni Streptococcus lactis yang diisolasikannya dari susu yang sudah masam. Suatu sampel dari suatu suspensi yang berupa campuran bermacam-macam spesies diencerkan dalam suatu tabung tersendiri. Dari enceran ini kemudian diambil 1 ml untuk diencerkan lagi. Dan dari pengenceran yang kedua ini diambil 1 ml untuk diencerkan lebih lanjut. Jika dari pengenceran yang ketiga ini diambil 0,1 ml untuk disebarkan pada suatu medium padat, kemungkinan besar kita akan mendapatkan beberapa koloni tumbuh dalam medium tersebut, tetapi mungkin juga kita hanya memperoleh satu koloni saja. Dalam hal yang demikian ini kita memperoleh satu koloni murni, dan selanjutnya spesies ini dapat kita jadikan biakan murni. Kalau kita belum yakin, bahwa koloni tunggal yang kita peroleh itu murni, kita dapat mengulang pengenceran dengan menggunakan koloni ini sebagai sampel.
2.      Denagn penuangan
Robert Koch (1843 – 1905) mempunyai metode yang lain, yaitu dengan mengambil sedikit sampel campuran bakteri yang sudah diencerkan, dan sampel ini kemudian disebarkan di dalam suatu medium dari kaldu dan gelatin encer. Dengan demikian yang diperoleh hanyalah suatu piaraan adukan. Setelah medium itu mengental, maka selang beberapa jam kemudian nampaklah koloni-koloni yang masing-masing dapat dianggap murni. Dengan mengulang pekerjaan seperti tersebut di atas ini, maka akhirnya akan diperoleh biakan murni yang lebih terjamin. Dalam melakukan metode ini ada dua orang pembantu Koch yang sangat berjasa, yaitu Petri yang menciptakan cawan dengan tutup yang sekarang terkenal sebagai cawan Petri (Petri dish). Pembantu yang kedua ialah Hese yang menemukan agar-agar untuk menggantikan gelatin. Memang agar-agar ternyata lebih baik daripada gelatin untuk bahan pengental suatu medium. Agar-agar tidak lekas mencair, titik cairnya 95o C.
3.      Denagan pengesekan
Metode ini sekarang banyak digunakan, karena tidak begitu memakan waktu, tapi dengan cara ini maka bakteri anaerob tidak dapat tumbuh. Jika ujung kawat inokulasi dibengkokkan, kemudian ujung itu setelah disentuhkan suatu koloni lalu digesekkan pada permukaan medium padat, maka beberapa waktu kemudian daripada itu (kurang lebih setelah 12 jam) akan tampaklah koloni-koloni yang letaknya tersebat di permukaan medium. Jika diadakan pemindahan sampel dari suatu koloni yang letaknya terpencil, maka akan diperoleh suatu biakan murni.
4.      Denagan mengucilakan satu sel
Kita mempunyai alat yang dapat mengambil satu bakteri dari sekian banyak, dengan tiada ikut sertanya bakteri lain. Alat semacam itu disebut mikropipet. Alat itu ditempatkan pada tangan-tangan suatu mikromanipulator. Dengan mikropipet dibuat beberapa tetesan bergantung pada suatu kaca penutup. Pekerjaan ini dilakukan di bawah obyektif mikroskop. Jika tampak suatu tetesan hanya mengandung satu bakteri, maka dengan lain mikropipet, tetesan tersebut dipindahkan ke suatu medium encer dengan maksud supaya bakteri tersebut berbiak dulu. Kemudian dari sini dapat diperoleh biakan murni. Metode ini sangat memerlukan kesabaran, lagi pula, mikromanipulator itu sangat mahal.
5.       Denagn inokulasi hewan
Metode ini didasarkan atas suatu kenyataan, bahwa tidak semua bakteri dapat tumbuh di dalam tubuh seekor hewan. Misal kita ambil dahak dari seseorang yang sedang menderita tbc. Jika dahak itu disuntikkan ke dalam tubuh tikus putih, maka bakteri-bakteri saproba yang ikut serta itu tidak akan bertahan, sehingga kemudian kita peroleh semata-mata basil tbc saja. Biakan Pneumococcus murni dapat diperoleh dengan jalan demikian juga. Bakteri yang ketinggalan dalam tubuh tikus yang sakit atau mati itu akhirnya dapat dipindahkan ke dalam medium yang sesuai. Inokulasi dapat dilakukan di dalam kulit (intracutaneous), dapat di bawah kulit (subcutaneous), dapat di dalam otot (intramuscular), dapat di dalam rongga tubuh atau lain-lain tempat lagi.

III.   Alat dan Bahan
Alat :                  Bahan:
1.  Cawan petri steril  1. Media Petri TEA   6. Alkohol 70 %
2.  Jarum ose           2. Media miring agar TEA
3.  Bunsen              3. Media TEA cair hangat
4.  LAF                 4. Media NA
5.  Tabung Reaksi       5. Yaghurt

IV.    Cara Kerja
·         Dipersiapkan cawan steril dengan media agar yang sudah steril.
·         Cawan diberi label dibagian bawahnya sebagai tanda kelompok, dan jenis media isolasi, dan gambarkan garis kuadran agar mempermudah penggoresan pada media dengan spidol di bagian bawah.
·         Jarum ose disterilkan dengan memanaskan ose di api Bunsen.
·         Jarum ose didinginkan sejenak, kemudian diambil bakteri yang sudah disiapkan denagan jarum ose,
·         Tutup peteri dibuka, kemudian lakukan penggoresan dengan metode kuadaran sesuai gambar garis bagi kuadran.
·         Jarum ose disterilakan lagi dengan api Bunsen, kemudian dinginkan sejenak lalu goreskan lagi ke kuadran ke dua tanpa mengambil bakteri lagi,
·         Lakuka cara diatas sampai kuadran ke empat, setelah itu cawan ditutup, penggoresan pada cawan selalu dekat denagan Bunsen agar tidak terkontaminasi.
·         Cawan di panaskan bagian tepi melingkar pada Bunsen, kemudian bungkus dengan kertas,
·         Cawan kemudian diinkubasi, setelah 48 jam cawan diambil kemudian diamati.

V.    Hasil Pengamatan dan Pembahasan.
Isolasi bakteri denagan metode pengoresan dilakukan di LAF agar mengurangi terjadinya kontaminasi pada media yang akan digunakan untuk pengisolasian bakteri, diamana penggoresan dilakukan dengan jarum ose yang disterilakan dengan api Bunsen pada LAF, kemudian bakteri diambil setelah jaurm didinginkan sejenak, suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan bakteri mati dan agar mudah meleleh sehingga metode ini dibutuhkan keahlian, jarum ose yang sudah diberi bakteri kemudian digoreskan ke media agar dengan zigzag pada kuadran pertama dari empat kuadaran yang daerah kuadrannya sudah digambar pada bagian cawan sebelumnya.
Lakuakan penggoresan ke kuadran kedua dengan menyeterilakn kembali jarum ose pad abunsen tanpa pengambilan bakteri kembali, pengoresan pada kuadaran dua haruslah meneruskan goresan terakhir pada kuadran dua dengan intensitas goresan yang semakin lemah dari pada goresan pertama. Lakukan goresan ketiga dan keempat sama seperti langkah penggoresan pada kuadran kedua denagan intensitas penggoresan semakin melemah, ini berfungsi untuk penisolasian bakteri sehingga nanti didapatkan biakan murni bakteri yang diinginkan. Yang perlu diperhatika dalam proses penggoresan yaitu cawan selalu dekat dengan Bunsen agar tidak terkontaminasi, jarum ose didinginkan sejenak agar tidak merusak media atau membunuh bakteri.
Setelah malakuakn penggoresan media cawan ditutup kembali dan kemudian disterilakn kembali dibagian tepinya di nyala api Bunsen, kemudian dibungkus dengan kertas yang sudah ada, media sudah siap lalu di inkubasi degan suhu 300C selam 48 jam. Setelah 48 jam media diambil dan lakukan pengamatan. Peletakan media dilakaukan dengan terbalik.
Penggoresan media yang benar dan baik akan terliahat hasil biakan bakteri murni pada satu titik koloni pada kuadran empat, sedangakn pada praktikum ini media isolasi bakteri telah mengalami kesalahan pengoresan sehingga tidak didapatkan biakan murni bakteri pada satu titik pada kuadran emapat, melainkan terdapat banyak titik biakan dan bakteri pada alur penggoresan, kesalahan penggoresan terletak pada langkah kerja yang dilakukan praktiakan dimana praktikan tidak mendinginkan sejenak jarum ose yang panas sehingga penggoresan di setiap awal mulai penggoresan pada setiap kuadaran penggoresan terlalu dalam dan tidak melemah sesuai dengan metode yang ada.

VI.     Kesimpulan
Proses isolasi bakteri dengan metode penggoresan diperlukan keahlian dalam menggores media agar didapatkan biakan murni bakteri yang diinginkan, karena penggoresan yang semakin melemah pada setiap kuadranya akan menyaring atau mengisolasi secara tidak langsung pada jenis bakteri tertentu sehingga metode ini akan memperoleh biakan murni pada satu titik pada kuadran emapat, Adapun metode yang digunakan selalu memperhatikan kesterilan lingkunagan, media, dan alat goresnya agar tidak terjadi kontaminasi, sehingga pada metode ini cawan dan Jarum ose selalu didekatkan Bunsen atau dipanaskan pada Bunsen.

VII.   Daftar Pustaka
Barazandeh, N. 2008. Microbiology Titles. Jerman. Springer-Verlag Berlin Heidelberg Media , pp 9-11
Pelczar, M.J.Jr, and E. Chan.1988. Dasar-dasar Mikrobiologi. Penerbit UI Press. Jakarta. p:23-24.
Prescott, L. M, J. P. Harley, dan D. A. Klein. 2008. Microbiology. 7th Ed. McGraw-Hill Book Company Inc. USA, p: 113-116
Seiler, J. P. 2000. Good Laboratory Practice. Swiss. Springer-Verlag Berlin Heidelberg Media , p 61.
Waluyo, L. 2007. Mikrobiologi Umum. UMM Press. Malang, p: 61-67.




 "Semua ini bukanlah yang terbaik tapi ini cukup sebagai pandangan mu"

1 komentar:

  1. terima kasih karena berkat laporan ini sudah membantu dlm pembutan isolasi bakteri

    BalasHapus